Air Mata Rumah Tangga di Saat lockdown

Infotion.com – Wabah virus corona atau covid-19 telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menelan korban ratusan ribu jiwa dari hampir tiga juta manusia yang telah dinyatakan terinveksi corona. Di Indonesia sendiri, ratusan orang meninggal akibat terpapar Covid-9.

Terbanyak kasus di DKI Jakarta hingga masuk zona merah dan lockdown. Sementara kasus positif Corona di Lampung hingga hari Minggu (26/4/2020) kemarin sudah mencapai angka 42 korban. Lalu pasien dalam pengawasa PDP 71 pasien dan 3.310 orang dalam panntauan (ODP).

Bagi pekerja lapangan, darurat corona ini sangat berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Tidaknya hanya soal ekonomi, tapi berdampak pada keharmonisan. Oleh kaena ini Indri Lestari, menulis ini berdasarkan fakta kisah nyata. Berikut…

Lockdown
Ilustrasi Lockdown | Foto: Ist.

Pagi ini, dapat WA dari teman di seberang sana. Sebut saja M. Beliau adalah istri dari seorang suami berprofesi sebagai pedagang di luar kota mereka tinggal. Anak mereka berjumlah 4 orang. Kehidupan mereka cukup mapan, bahkan saat lockdown pun alhamdulilah masih tercukupi.

Kusapa lah dia..
S : Apakabar mu dan keluarga?
M : Baik, alhamdulilah. Tapi aku bosan mi,
S : Maklumlah lagi dirumah aja, pasti bosan. Buatlah aktifitas yang menyenangkan
M : Bukan bosan dirumah, tapi bosan lihat suami, dirumah saja. jadi ga greget gitu
S : ( kaget, ko bisa bilang bosan, lihat suami nya dirumah)
M : Tiap hari lihat suami, jadi ga kangen. Kalau pulang sebulan sekali kan jadi kangen, greget gitu.

Ya begitulah chat kami pagi ini.

Ada cerita lain. Suami seorang supir, istri irt biasa. Lockdown dirumah, karena penumpang sepi dan mengurangi pendapatan. Seringkali terjadi keributan. Si istri merasa nafkah berkurang, dan si suami pusing karna pendapatan nya berkurang bahkan nombok untk setoran. Ini lah yang menyebabkan KDRT, saling tidak bisa mengendalikan emosi.

Lantas siapa yang disalahkan jika sudah begini? Mari kita telaah dari berbagai sisi

1. kurang kuat nya aqidah dan nafsiyah antar suami dan istri.

Dari point ini kita bisa pahami, pondasi utama dalam kehidupan apapun adalah agama. Agama adalah kekuatan utama seseorang jika mengalami keguncangan hidup. Menyelesaikan semua masalah dengan solusi ajaran agama. Bagaimana ketika menghadapi ujian hidup, bagaimana bersikap terhadap suami ataupun terhadap istri. Hukum Sya’ra menjadi landasan utama dalam hidup.

2. Kepekaan masyarakat terkait kondisi warga sekitar.

Disini kita diuji tentang bagaimana kita bisa bertetangga dengan baik, saling peduli dan bisa bersilaturahim dengan baik. Bukan hanya materi, namun juga dengan pembinaan warga dengan mengadakan kajian kajian umum di mesjid, di rumah atau apapun, saling menasehati dalam kebaikan. Kondisi sekarang akan memperlihatkan bahwa bertetangga atau berteman dengan orang sholih akan menguatkan keimanan dan tetap tegar menghadapi keadaan seperti ini

3. Peran pemerintah

sudah jelas, fungsi dari pemerintah adalah mengayomi rakyatnya. jika dalam kondisi seperti ini, warga diminta untuk dirumah saja, untuk mengurangi penyebaran virus covid19 ,dengan kata lain pendapatan akan berkurang bagi warga menengah kebawah bahkan semua lapisan.

Sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat. Maka pemerintah wajib memberikan kebutuhan pangan dan sandang semua warganya. tentu saja hal ini memerlukan management dan koordinasi yang baik diantara element pemerintah. Point tiga ini sungguh sangat sulit jika pemerintahan tidak terbuka dan tidak jujur atas pengelolaan SDA negara.

Insyaa Allah jika tiga point itu mendukung, suami istri dalam kondisi apapun akan saling menguatkan, tetap merasakan cinta dan sayang dan saling mengingatkan dalam ketaatan kepadaNya. Semoga semua nya rukun, aman dan tetap harmonis dengan pasangan halalnya. Aamiin. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Indri Lestari
Dipublikasikan, Minggu (26/4/2020)

3 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *